Pandangan tentang diri sendiri, siapa lebih bisa dipercaya?

Kadang kala, sebagai “pemilik diri” kita masih suka bingung dengan kemampuan dan potensi diri kita sendiri.
Oleh sebabnya, kita justeru jadi cenderung lebih percaya berlebihan sama pandangan lingkungan (yang belum tentu benar), maupun pada pendapat pribadi yang merasa sudah cukup kenal (padahal belum tentu juga).
Kok pandangan pribadi belum bentu benar? Maksudnya gimana?
Pandangan kita sebagai pribadi bisa punya kecenderungan bias. Sebab selain memandang, diri kita juga bertindak atas nama pribadi, sehingga terkadang ada beberapa hal yang bisa dianggap sebagai ‘pembenaran’ demi mencapai kehendak pribadi.
Lalu gimana dong?
Sebagai observer internal dan external dalam dunia perilaku, kuperhatikan, kebanyakan dari kita cenderung enggan menggali dan mencocokkan data. Data dari perjalanan dan pengalaman hidup kita secara pribadi, dengan data yang tertera dalam informasi Internal Map yang tersedia.
Internal Map? Apa itu?
Silahkan googling sendiri ya untuk mencari definisinya. Karena yang ingin kufokuskan disini adalah bagaimana supaya kita bisa punya kemampuan memilah dan memilah informasi tersebut. Yang tentu saja juga perlu kita cari tahu lebih jauh bahkan kita uji coba. Dengan apa? Dengan apa yang sudah terjadi dalam hidup kita alias yang pernah kita alami sendiri.
Sebagai contoh, ketika awal aku mempelajari Human Design, aku tidak percaya ketika aku memiliki kemampuan memimpin. Kenapa? Karena menurutku saat itu, aku sangat payah dalam memimpin. Aku beberapa kali gagal dalam memimpin tim di kampus bahkan dalam bisnisku yang sebelumnya.
Tapi lambat laun aku mempelajari, lebih jauh aku memberikan waktu untuk memahami, ternyata dari Human Design, ada benarnya juga.
Memiliki energi besar atau kemampuan untuk Memimpin itu tidak mungkin tidak dibentuk dan diolah dulu. Kegagalanku berkali-kali dulu adalah momenku mematangkan kemampuanku dalam hal kepemimpinan itu.
Kalau aku tidak pernah gagal, tidak pernah merasa payah, tidak ditinggalkan tim sendirian, aku tentu tidak akan punya kesadaran untuk evaluasi dan introspeksi diri seperti yang sudah kulakukan. Dengan aku sadar aku salah, payah, aku justeru jadi berkenan belajar dan terus mengasah kamampuanku dalam kepemimpinan.
Yang ternyata dalam hal ini sudah kubuktikan juga pada bisnisku kali ini. Yakni setelah aku mendeteksi dimana traumaku, evaluasi dan memperbaikinya dengan banyak metode, aku kembali mampu berdiri seperti sekarang ini. Bahkan bonusnya justeru bisa membantu orang lain yang memang bersedia kubantu.
Intinya, kita perlu memperlebar makna dari cara kita menyeleksi pandangan. Kamu boleh berpendapat tentang dirimu secara pribadi, silahkan. Lingkunganmu pun boleh melakukan hal yang sama, tapi jangan lupa juga bahwa ada data yang telah “disiapkan oleh semesta” untuk dapat kita baca dan jadi tambahan data untuk diolah sebagai pelengkap yang lebih objektif tentang siapa dan seperti apa diri kita.
Ingat ya, poinnya bukan siapa yang paling benar, tapi SEBERAPA SEMUA PENDAPAT DAN DATA ITU YANG PALING MENDEKATI DENGAN TUJUAN KITA KEDEPANNYA.
Demikian ya, semoga tidak disalahpahami.
Selamat berproses dengan diri sendiri.
Salam,
Dyana Razaly.
