morfē
- By Dyana Razaly
- In Dyana Razaly

morfē – Memoar Reflexivity adalah memoar perjalanan dari Dyana Razaly tentang Self Discovery & Recovery yang dilaluinya sebagai pribadi yang pernah sangat membenci dirinya sendiri karena sebuah alasan utama, yakni belum kenal apalagi mengerti tentang diri.
Melalui buku ini, Dyana ingin memperkenalkan dirinya bukan cuma seorang Fasilitator Self Discovery & Recovery yang hanya belajar dari teori atau bahkan cerita orang lain, melainkan dari pengalaman pelik nan pahit yang dialaminya sendiri selama sekian tahun.
Buku ini bukanlah buku panduan apalagi ajakan untuk ikut jalur yang diambil oleh Dyana. Enggak ya. Melainkan hanya rekaman jujur tentang pengalaman dan pembelajaran apa saja yang membentuknya sampai pada akhirnya ia cukup tegak dan berani untuk menjadi rekan seperjalanan dan memfasilitasi sesi dalam Self Discovery & Recovery para klien yang mempercayainya sejak tahun 2024.
Landasan Kenapa buku ini hadir?
alasan Dyana menulis morfē..
Di tahun 2015 ketika buku novel pertamanya lahir, ada satu komentar dari orang terdekat yang cukup meninggalkan noda berkarat dihatinya. sehingga yang terjadi adalah Dyana mempertanyakan kemampuan dan kelayakannya dalam kepenulisan. Selama 11 tahun berselang, pelan-pelan ia menelusuri luka itu hingga pada akhirnya bertemu beberapa clue yang selama ini sangat berguna untuk proses dirinya. Yang diantaranya adalah kompleksitas hubungan yang rumit dengan masa lalu, khususnya orang tua, kebencian pada diri sendiri karena terlalu lelah menjadi people pleaser hingga internal conflict yang tak kunjung usai di kepalanya.
Berkali-kali ia memutuskan untuk menyerah tapi Tuhan dan semesta seolah membiarkan harapannya bertepuk sebelah tangan untuk kabur dari hal yang seharusnya ia mengerti dan pahami.
Melalui buku ini, Dyana bercerita dengan sangat gamblang tentang perubahan persepsinya dari yang merasa si paling korban sampai akhirnya sadar bahwa ternyata dirinya sendiri pun adalah penentu dari kerumitan hidup yang terjadi.
Berawal dari sinilah Dyana memantapkan diri untuk membuat banyak hal (diantaranya layanan jasa profesional dan buku) demi membantu orang lain dengan cara yang selaras, selayaknya dulu ia dibantu oleh orang-orang yang tidak pernah ia nyana sebelumnya.
Bukan Buku Panduan
Apalagi buku ajakan ya..
Dyana menulis dengan jelas bahwa buku ini adalah memoar perjalanan pribadi, bukan buku panduan healing, bukan ajakan untuk membenarkan atau menyalahkan pihak tertentu.
Di beberapa bagian, kamu akan menemukan topik yang sensitif: luka keluarga, kritik terhadap jargon religius yang terasa timpang, rasa tidak pantas, dan kelelahan mental. Semua itu ditulis bukan untuk memperkeruh, melainkan supaya perjalanan ini bisa dilihat secara utuh sesuai konteks dan emosinya.
Dyana menyarankan kamu membaca sampai selesai dulu sebelum menarik kesimpulan. Dan kalau setelah selesai pun ada banyak hal yang tidak kamu setujui, itu juga tidak apa‑apa. Ia tetap menghormatinya.
Untuk siapa buku ini?
Buku ini pas untuk kamu yang ..
- Pernah atau sedang bergulat dengan luka keluarga, pengasuhan yang membingungkan, dan rasa “kok kayaknya cuma aku yang se‑aneh atau se-tersiksa ini”.
- Lelah dengan slogan healing dangkal dan ingin melihat seseorang mengakui luka dan kebimbangannya tanpa menggurui.
- Pernah merasa iman dan identitasmu dipaksa seragam, dan sekarang sedang menegosiasikan ulang hubunganmu dengan Tuhan, tubuh, dan kewarasan.
- Ingin tahu konteks di balik cara Dyana membaca pola hidupmu di sesi DiaRCo—bukan untuk meniru jalannya, tetapi untuk melihat dari mana sudut pandangnya lahir.
Apa yang bisa kamu temui di dalamnya?
Fragmen perjalanan buku ini..
“Semangkuk Suksma” – Dyana menjelaskan proyek comeback ini: trauma kepenulisan, keinginan menyusun kembali diri, dan ucapan terima kasih kepada semua orang dan kejadian yang membentuknya.
“Cerita Bunga Lavender Palsu” – kisah tanaman yang awalnya “jelek dan sakit”, dirawat Kabimo sampai berbunga lagi, yang membuka cara Dyana melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang layak dirawat, bukan dibuang.
“Gue Setoksik itu, Dulu” – pengakuan keras bahwa sebelum orang lain menyakiti, Dyana duluan yang membully dirinya sendiri, berangkat dari pola pengasuhan dan kalimat bocah 7 tahun yang mengubah hidup satu keluarga.
“Si Parent Pleaser” & “Gambaran Orang Tua Idaman” – bagaimana Dyana belajar menjadi anak yang menyenangkan orang tua meski dalam hati penuh protes, lalu pelan‑pelan mengurai itu di usia dewasa.
“Satu Kesempatan Lagi” & “Kejujuran yang Dimaksudkan” – tentang pengalaman nyaris mati dan “kesempatan sekali lagi” untuk hidup lebih jujur, termasuk terhadap pilihan spiritual dan identitas diri.
“Pemulihan Luka yang Tidak Biasa” dan “Proses Integrasi yang Messy” – menggambarkan pemulihan yang tidak lurus: campur tangan banyak orang, terapi, spiritualitas alternatif, dan kekacauan yang perlahan jadi pola.
Epilog: “Kamu nggak Sendiri” – bukan janji bahwa semuanya akan baik‑baik saja, tetapi pengakuan bahwa perasaanmu bukan anomali dan kamu berhak mencari cara sendiri untuk memahami hidupmu.
Format & Harga
Pilih cara yang paling nyaman untukmu ya..
Buku fisik (PRE-ORDER) – Rp96.000**
isi ±103 halaman,
Ukuran 14,8 x 21 cm.
Cocok untuk kamu yang lebih suka membaca dengan menggenggam buku langsung dan ingin membaca lebih pelan, memberi anotasi dan menaruh memoar ini di rak sebagai pengingat dari rekan perjalanan.
Btw, untuk buku fisik, harga belum termasuk ongkos kirim yaa..
[Pesan buku fisik, klik disini]
Ebook (PDF) – Rp69.000
Versi digital yang bisa dibaca di HP, tablet, atau laptop.
Cocok untuk kamu yang ingin akses cepat, fleksibel, dan tinggal di lokasi dengan ongkir fisik yang tinggi.
Paket lengkap: buku fisik + ebook + sesi ngobrol 25 menit dengan penulis via GMeet – Rp250.000
Untuk kamu yang bukan hanya ingin membaca, tetapi juga berbincang langsung dengan Dyana tentang hidupmu sendiri yang mungkin serupa, sepemikiran namun dalam dalam ruang yang lebih aman dan terpercaya.
Baca Preview
Sebelum membeli..
Kalau kamu ingin mencicipi dulu, Dyana membuka beberapa halaman awal sebagai preview: Semangkuk Suksma, Catatan dari Penulis, Prolog “Cerita Bunga Lavender Palsu” dan secuplik bab awal “Gue Setoksik Itu Dulu”.
Kamu bisa membaca preview tersebut di sini:
Setelahnya, kamu bebas memutuskan apakah morfē adalah buku yang kamu butuhkan sekarang, atau mungkin kamu simpan dulu untuk waktu lain.
Intisarinya..
morfē – Memoar Reflexivity adalah cara Dyana Razaly dalam memperkenalkan dirinya secara utuh: bukan hanya sebagai fasilitator di sesi, tetapi sebagai manusia yang juga pernah sangat membenci dirinya sendiri sebelum mengenali siapa ia sebenarnya.
Selamat membaca dan mencerna yaa..