Tentang Dyana Razaly
Sebelum DiaRCo
Mengawali karir profesional sebagai Wedding Planner (2011), Recrutment Consultant (2012), Marketing HR (2014). Sementara kerjaan paling lama yang gue lakukan adalah menggantikan peran bapak gue di bisnis retail dan properti selama delapan tahun (2014-2022).
Sempat gue kira kerja bantu bapak gue adalah pekerjaan paling sia-sia yang pernah gue lakukan, tapi ternyata justeru dari situ gue bisa kenal diri sendiri secara lebih nyata dan lebih dekat. Lewat kacamata luka, trauma dan pendaman emosi yang selama ini gue kubur dalam-dalam.
Titik Balik
Luka, air mata, trauma dan segala nuansa emosi yang tidak terkendali inilah yang menyadarkan kebodohan gue bahwa selama ini gue tidak berlaku cukup baik dan adil terhadap diri sendiri.
Sebelumnya gue selalu mementingkan kepentingan orang lain (siapapun), diatas kepentingan pribadi. Meski gue gak mau, meski gue gak mampu tapi gue terus memaksakan untuk tidak mengecewakan mereka.
Karena sekian lama air mata terus dibalasnya dengan air comberan. Bagi gue, sudah waktunya untuk selesai.
Membangun DiaRCo
DiaRCo gak gue bangun dari sekerdus teori edukasi. Tapi dari 22 tahun menjadi People Pleaser yang dengan naifnya menyabotase diri sendiri. Hanya demi orang lain bahagia, senang dan bangga. Sementara gue? HAHAHA!!!
Eh, tapi tetep dapet sih, DAPET HIKMAH dan pelajaran berharga dan sangat mahal dari kebodohan itu sendiri.
Dan karena itulah gue mulai lebih sadar untuk mengamati sesuatu. Semacam pola yang kayaknya terjadi di semua manusia yang sedang menjalani kehidupan.
Cuma karena saking banyaknya tanggung jawab yang harus dilakukan, makanya (mungkin) gak semua orang punya banyak waktu, tenaga dan kenginan buat segitunya mendalami seperti yang gue lakukan.
Gue menyebutnya, Human Pattern. Pola berulang yang terjadi pada manusia. Yang bisa jadi serupa, bisa jadi jauh berbeda. Tapi kemungkinannya ada poin-poin yang bisa saling bersinggungan. Dan disitulah kita bisa saling belajar dan membersamai.
DiaRCo sengaja gue buat untuk tempat gue memahami diri gue sendiri tentunya, sekaligus bersama dengan orang-orang yang memilih gue. Baik itu sebagai pasangan, rekan kerja maupun yang mempercayai gue sebagai teman seperjalanannya.
Sehingga kita bisa “Saling belajar, berbagi dan membersamai proses penggalian jati diri juga pemulihan luka batin”, sebagaimana nafas komitmen dari DiaRCo itu sendiri.
Kenapa gue bilang saling? Karena gue sadar, coach pun manusia, yang masih terus berproses dan perlu belajar dalam hidupnya. Makanya gue lebih seneng bilangnya bersama. Yang jadi inspirasi nama akun instagram DiaRCo, yakni @bersamadyanarazaly.
Yang gue lakoni
Kembali ke rasa penasaran sama #HumanPattern (pola-pola manusia) inilah yang bikin gue nolak berhenti belajar. Gue melahap berbagai macam pendekatan terkait, macam Human Design, Destiny Matrix, Vedic Astrology, Numerology, Gene Keys, I Ching, Tarot, SEFT, Resource Therapy, dan SRM.
Sertifikasi di Resource Therapy dan SRM — keduanya terakreditasi ACCPH. Bukan karena butuh titelnya, tapi karena hidup gue membutuhkan itu buat menjawab rasa lapar gue tentang pertanyaan yang selama ini bikin gue gila.
Dan semua itu gue pakai dan gue uji coba ke diri sendiri dulu. Bertahun-tahun. Sampai sekarang.
Dengan gue udah paham gimana dan seperti apa pola gue, mulailah gue ngamatin dari orang-orang sekitar. Gue mau apa yang gue pakai sendiri dan berikan sebagai saran untuk orang lain punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
Terlebih ke pihak lain, yang notabene latar belakangnya, situasi dan kondisinya pun beragam.
Dari ragam alasan itulah kenapa gue gak pernah terlalu membanggakan atau hanya mengandalkan satu perspektif aja.
Buku morfē (memoar reflexivity)
Oh, iya. Satu lagi.
Gue juga nulis buku. Judulnya Morfē. Sebuah memoar dari perjalanan gue pribadi sampai akhirnya bisa ada di titik ini, membangun DiaRCo.
Makanya subjudulnya pun, “memenangkan pertempuran benci melawan diri sendiri”.
Morfē adalah project comeback gue setelah 11 tahun trauma menulis. wkwkwk. Dan bakalan segera rilis supaya siapapun yang pernah ada di titik kayak gue, punya pemahaman kalo ternyata bisa kok diselesaikan, dan gak harus sendirian.
Semuanya tergantung bagaimana kita memandang diri kita sendiri.
Anyway, terima kasih yaa sudah bersedia baca sampai sini.
Kamu bisa lanjut ke Catatan atau bisa kepo lebih lanjut lewat @dyanarazaly atau @bersamadyanarazaly.
Kalau kamu butuh dan percaya, gue ada disini ya.