BEKEL = Belajar Kelompok
Personal Journey ‘Kan Nggak Harus Sendirian.
Ini adalah premis #BEKEL: journey-mu itu personal—tapi proses belajarnya nggak harus sendirian.
Kadang, pemahaman terdalam tentang dirimu justru muncul ketika:
- Kamu dengar orang lain describe struggle yang mirip dengan bahasa berbeda—dan kamu jadi punya vocabulary baru untuk pengalamanmu
- Kamu lihat pola di cerita orang lain yang ternyata juga pola kamu—tapi kamu baru sadar setelah melihatnya dari luar
- Kamu di-challenge (gently) oleh perspektif yang berbeda—dan itu buka blind spot yang selama ini nggak kelihatan
- Kamu nggak merasa “aku satu-satunya yang kayak gini”—dan validation itu sendiri sudah healing
Collective learning for individual growth.
Itu inti dari #BEKEL.
Curated, Bukan Rutin
#BEKEL nggak diadakan setiap bulan atau setiap quarter.
Kami adakan ketika ada tema yang urgent, momentum yang pas, atau kebutuhan kolektif yang layak untuk eksplorasi bareng.
Bisa jadi 2 bulan sekali. Bisa 4 bulan. Bisa 3x dalam 2 bulan.
Yang penting: setiap session ada purpose yang jelas.
Kenapa nggak rutin?
Karena kami nggak mau ini jadi “oh ya, ada lagi bulan depan, skip yang ini nggak apa-apa.”
Kami mau setiap #BEKEL meaningful, curated, dan worth showing up for.
Belajar, Bukan Sekadar Sharing
Kami nggak suka sharing dangkal.
“Gimana kabarmu?” “Baik kok.” “Oh bagus.”
Itu bukan yang kami maksud.
Di #BEKEL, personal journey-mu tetap milikmu—tapi kamu eksplorasi bareng orang lain.
Yang terjadi adalah:
🧠 Eksplorasi dari berbagai lens
Journey yang sama bisa dilihat dari trauma lens, astrology lens, family systems lens, somatic lens—dan semuanya valid. Semakin banyak lens, semakin utuh pemahaman.
📖 Dialogue, bukan monologue
Bukan “aku cerita, kamu dengar, selesai.” Tapi co-exploration—kita bedah bareng, tanya bareng, connect dots bareng.
🔍 Framework yang guided
Ada struktur intelektual untuk ensure diskusi tetap substansial. Nggak ngalor-ngidul tanpa arah.
💡 Integration ke kehidupan nyata
Tujuan akhir bukan “oh menarik”—tapi “aku bisa apply pemahaman ini gimana?”
Personal journey-mu tetap personal.
Tapi proses memahaminya jadi lebih kaya ketika nggak sendirian.