Unconsciously Trapped
- By Dyana Razaly
- In Blog, Self Journey
- 0 comment

I’m stuck! There are moments when the past keeps replaying in silence. I don't scream, I don’t run like before. But inside, I realize, I am trapped with those senses.
Baru banget kejadian, mungkin sekitar 10 menit dari gue mulai menuliskan tulisan ini. Gue tersadar tentang sesuatu. Setelah sekian hari merasa aneh sama diri sendiri, “kok gue jadi gak jelas lagi ya? Perasaan kemarin trauma tentang hal itu udah gue beresin pake terapi A, B bahkan C, yang udah lama gak gue pake lagi. Tapi kenapa kok kayaknya masih berasa ada belum tuntas ya?,” komplen dari batin gue. Apalagi kualitas tidur gue akhir-akhir ini jadi kembali kurang bagus, alias gue masih mimpi-mimpi ga jelas dan sampe bikin mood gue kemarin jelek seharian.
Seperti yang sudah pernah gue mention di video instagram, bahwa selain gue pernah bersahabat akrab dengan depresi selama sekian belas tahun, sahabat lain yang juga pernah jadi guru dalam proses kedewasaan gue adalah PTSD.
Selama dua tahun terakhir, gue emang lumayan concern buat ‘nyongkelin dan nyapuin’ batu-batu kerikil yang berpotensi jadi trigger depresi gue balik, tapi ndilalah, gue beneran lupa sama si sahabat yang satu lagi itu. Awalnya, ya gue kira si PTSD bakal cabut dengan sendirinya kalo si depresi udah gue beresin, ealah, ternyata enggak begitu ya, jalan ceritanya wkwk.
“Depresi dan PTSD sering memunculkan reaksi bawah sadar seperti fight, flight, freeze atau fawn, tanpa disadari oleh penyintasnya,” begitu kata seorang ahli yang memang dari dulu menjadi rekan andalan gue untuk menyelesaikan urusan ini.
Pas gue inget kalimat itu, dan gue ‘tuangkan’ ke dalam hal bermasalah yang akhir-akhir ini menjadi halangan gue untuk melakukan sesuatu, yakni kembali aktif menulis, baru engeh sesuatu. Wkwk.
Meski emang, respon badan gue udah gak lagi fawning, fight berlebihan dan freeze kayak dulu, tapi untuk flight yaa, emang masih gue lakukan sih, sampe kemarin.
Dengan seribu satu alasan juga pembenaran, gue selalu menghindari hal utama yang perlu gue lakukan dengan mengalihkan ke beberes rumah, ngurusin tanaman, nyuci mobil, masak dan lainnya. Lalu, ketika semua ‘pembenaran’ tadi sudah selesai gue kerjakan dan gak ada lagi bantalan buat menghindar, gue mulai kembali bingung. “Kok gue masih susaahh banget ya buat melakukan? Hmmm, nempel dimana lagi nih “lukanya”??” kesel gue dalam hati.
Satu-satunya yang jadi target kecurigaan gue adalah kualitas tidur yang masih memunculkan mimpi gak jelas. Dan kalo urusannya sama mimpi, itu bukan lagi ranah conscious atau kesadaran, melainkan yaa urusan unconscious alias alam bawah sadar, yang dimana badan punya muscle memory terhadap ‘luka’ tersebut.
Sesaat sebelum gue execute trauma tentang lingkungan (dulu) yang sangat tidak pernah mau menerima kesalahan, jemari tangan, lengan dan betis gue emang kayak ngasih tanda lewat rasa sakiiitt yang tiba-tiba datang. Tapi yaa namanya waktu itu belum ngeh ya, jadi gue cuekin dulu aja. Karena saat itu fokus gue emang masih di ingatan-ingatan aja. Singkat cerita, setelah isi kepala agak beres karena gue sudah komit untuk menggunakan perspektif baru, ealah, gue baru sadar kalo informasi beberapa hari lalu dari bagian tubuh gue, yaitu jemari tangan, lengan, dan betis masih ‘belum kepegang’ untuk diberesin.
Sejujurnya gue juga gak tau ya, apakah ini bisa kalian duplikasi secara langsung atau tidak. Tapi, setelah gue menelaah ingatan kalau emang dulunya saat gue melakukan kesalahan, lengan gue emang selalu jadi santapan empuk untuk dipukul sama benda tumpul atau dicubit sampai memar. Begitu juga dengan nasib jemari dan betis gue yang gak beda jauh nasibnya. Ingatan itu emang kayak berasa lagi nonton ulang sinetron di dalam kepala.
Gue sadar, nampaknya badan gue masih perlu waktu untuk mencerna keadaan yang baru kalau ternyata hati dan pemikiran gue sekarang sudah menerima, memaafkan atau sudah melepaskan tentang semua kejadian dimasa itu. Kenapa gue bisa bilang gitu, karena gue kenal sama reaksi badan gue ketika menunjukkan hal demikian.
Terkadang kita atau mungkin lebih tepatnya gue, yang hanya ga sabaran aja. Maunya segala segala sesuatu yang bermasalah ketika diberesin satu, ya kalo bisa semuanya (hal bermasalah lain) ngikut. Tapi ya gak semuanya bisa begitu. Macam debu atau kotoran yang nempel bertahun-tahun di dalam lekukan sudut. Gak mungkin ikutan bersih cuma dengan sekali sapu dan pel aja. Butuh effort ekstra untuk mencari tahu itu kotoran apa. Gimana cara bersihinnya supaya ga ada sisaan atau malah merusak cat.
Dan ketika gue menuliskan ini, bahkan hingga menimbulkan suasana hati yang lega. Ada kemungkinan jemari tangan gue sudah perlahan mulai percaya, bahwa Dyana yang dulu dan yang sekarang sudah berbeda. Dyana yang dulu, adalah Dyana yang selalu membenci sebuah kesalahan. Yang selalu over self-criticize bahkan gak jarang sampai self-harm saking “ikut terbawa lingkungan” yang memang tidak menerima sebuah kesalahan apapun.
Tetiba gue jadi keinget tulisannya Mark Manson, yang bilang “It’s not your fault, but it is your responsibilities.”
Ketika kita lahir ke dunia ini, kita emang gak pernah bisa milih kita akan berada dan tumbuh kembang di lingkungan mana, dan itu bukan kesalahan kita. Tapi itu tetap jadi tanggung jawab kita dalam menjalani kehidupan ini. Dengan lingkungan yang seperti itu, kita bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri, mau sama kayak lingkungan itu, atau pelan-pelan terus belajar berbenah diri. Kalau emang ternyata lingkungan tersebut tidak cocok dengan prinsip hidup juga tujuan kita, ya, pilihan kita lagi untuk memutuskan. Pergi menjauh itu bukan berarti sudah gak peduli, tapi menurut gue, itu adalah bagian dari strategi bertahan hidup, dengan menjaga jarak sementara waktu, sembari memperbaiki dan membenahi luka ketika sudah siap dan emang lo mau untuk kembali ke lingkungan tersebut, ya sekali lagi, itu juga bagian dari pilihan. Silahkan aja, selama memang lo sudah memperhitungkan dan mempersiapkan segala akibatnya.
Pada beberapa hal yang saat ini masih bergulir, gue pribadi juga memilih untuk pergi. Bukan karena sudah ga peduli atau masih membenci, tapi sesederhana satu kata aja, percuma. Percuma kalo kembali tapi hanya akan jadi ajang saling menyakiti satu sama lain kayak dulu lagi, saking berbedanya. Jadi, daripada begitu, lebih baik, masing-masing memilih yang sesuai dengan prinsip dan value dalam hidupnya aja.
Suksma,
Dyana Razaly
08 May 2025 ~ 12.22 WIB
You may also like

We Are in Everything – Meditation Card
- April 17, 2025
- by Dyana Razaly
- in Blog